Monograf ini ditulis sebagai suatu upaya untuk menggambarkan peta tantangan dan peluang masyarakat sipil saat ini, setelah Reformasi lebih dari dua dasawarsa lalu. Tidak ada keraguan bahwa masyarakat sipil adalah salah satu pendorong utama dalam momen penting sejarah modern Indonesia itu. Apa yang telah terjadi dalam masa lebih dari dua dasawarsa itu? Adakah kemajuan, dan tantangan apa yang menonjol kini? Salah satu keprihatinan yang mendasarinya adalah realitas yang telah sering diungkapkan dalam diskusi-diskusi akademisi dan aktivis, yaitu tentang fragmentasi dalam gerakan masyarakat sipil.1 Atau mungkin bahkan lebih

Isu ini kerap muncul dalam pertemuan-pertemuan aktivis dan akademisi, khususnya di antara mereka yang berfokus pada isu-isu atau sektor-sektor berbeda. Terkadang bahkan kelompok-kelompok yang sama namun bekerja dengan pendekatan berbeda pun tak selalu sejalan. Salah satu projek riset penting yang mengangkat isu ini adalah buku suntingan Hiariej dan Stokke (2017). Lihat juga kajian Hiariej sebelumnya (2015) yang akan dibahas nanti. Bab- lainnya dalam buku itu mengungkapkan cukup banyak studi kasus yang beragam, termasuk aktivitas advokasi untuk pekerja domestik, komunitas miskin perkotaan, isu lingkungan (sawit dan industri ekstraktif), kaum muda, dan gerakan Islamisme.

jauh: kehilangan orientasi? Karenanya, bersama dengan pertanyaan-pertanyan itu, tak dapat dihindari, mesti ditanyakan pula, apa sebetulnya yang ingin dicapai? Dan bisakah kita tahu, kini sudah sampai di mana? Dengan demikian, motivasi lain monograf ini, dalam ungkapannya yang paling luas, adalah untuk mendiskusikan bagaimana, pada titik sejarah saat ini, cita-cita Indonesia dapat tercapai. Persoalannya lebih kompleks, karena untuk itu, kita juga harus merumuskan cita-cita itu, yang masih terus menjadi bahan diskusi.

Pertanyaan yang mendasar seperti itu menghendaki jawaban yang komprehensif, yang tidak akan diupayakan di sini. Monograf ini memiliki tujuan yang lebih sederhana dan tidak berpretensi lebih jauh dari sekadar menstimulasi diskusi lebih lanjut.

Meskipun distimulasi oleh pertanyaan konkret hari-hari ini, kajian ini bersifat teoritis. Jika di atas disebut bahwa salah satu persoalan kita saat ini adalah fragmentasi masyarakat sipil, monograf ini berargumen bahwa masalah itu bukanlah sekadar masalah praktis di lapangan, entah karena kesulitan atau ketiadaan komunikasi antar kelompok-kelompok masyarakat sipil, atau perhatian pada isu-isu yang berbeda, atau pilihan strategi advokasi yang berbeda. Meskipun masalah-masalah itu menyumbang cukup besar pada fragmentasi, namun ada persoalan lain yang lebih dalam, yang sifatnya teoritis dan penting dibincangkan pada aras itu pula.

Ketika berbicara tentang teori, para teoritisi yang dirujuk di sini sebagian mengembangkan teorinya dalam konteks negara-negara Barat yang demokrasinya relatif telah lebih mapan, namun sebagian besar dari mereka juga memperhatikan sensitivitas konteks poskolonial dan negara yang baru berdemokrasi. Sebagian lainnya berteori dari situasi yang lebih dekat dengan Indonesia, meskipun untuk isu-isu yang berbeda. Terlepas dari itu, dari waktu ke waktu akan diberikan ilustrasi dari konteks Indonesia, baik dalam sejarahnya, maupun situasi saat ini.

Tulisan ini diawali dengan pembahasan tentang keadilan dan kewargaan2 sebagai dua konsep utama yang diharapkan membantu analisis persoalan di atas, dengan memberikan ilustrasi dari situasi Indonesia dalam sejarah yang dekat, hingga saat ini. Bagian berikutnya mendalami isu kewargaan dengan lebih jauh melihat jenis-jenis kewargaan keseharian, dan bagaimana perspektif ini membantu memahami gerakan masyarakat sipil di Indonesia saat ini.

© 2023 Program Peduli. All rights reserved.