Bagian ini menjelaskan secara spesifk akar sejarah munculnya Pangestu, profl pendiri, ajaran-ajaran utama, dan pembentukan, sistematika organisasi serta pemahaman mengenai spiritualisme yang menjadi inti berdirinya organisasi. Paguyuban Ngesti Tunggal merupakan sebuah organisasi spiritual yang sering disalahartikan sebagai organisasi aliran kepercayaan. Namun secara eksplisit Pangestu menegaskan diri bukan sebagai aliran kepercayaan, kebatinan atau agama baru. Sejak awal berdirinya, Pangestu telah merumuskan Anggaran Dasar dan Rumah Tangga organisasi yang melegitimasi identitas spiritualnya. Bagian ini adalah pengantar sebelum membahas mengenai governmentalitas, defnisi agama dan kepercayaan versus identitas spiritual Pangestu, serta bagaimana kemudian latar belakang organisasi, ajaran serta pendiri menjadi faktor utama yang mempengaruhi identifkasi Pangestu sebagai warga negara abjek yang ingenious.

A. Sejarah Singkat Pangesu

Paguyuban Ngesti Tunggal (Pangestu) adalah salah satu organisasi spiritual yang berdiri di Solo pada tahun 1949 berdasarkan wahyu yang diterima oleh Soenarto Mertowardojo, atau yang dikenal sebagai Pakde Narto. Pakde Narto dilahirkan pada hari Jum’at, tanggal 10 Besar 1828 (tahun Jawa) atau tanggal 21 April 1899, di desa Simo, Kawedanan Simo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Masa kecil dan remaja Pakde Narto dipenuhi dengan kesulitan. Semasa kecilnya, ia kerap dititipkan kepada saudara-saudara orang tuanya, seperti layaknya tradisi Jawa jika sebuah keluarga memiliki banyak anak. Meski dititipkan, Pakde Narto tidak diperlakukan seperti layaknya anak kandung, namun justru dipekerjakan seperti pembantu. Banyaknya cobaan hidup membuat Pakde Narto mulai berpikir tentang Tuhan, tentang spiritualitas dan hubungan antar manusia. Selain itu, Pakde Narto merasa ajaran agama Islam yang dipelajarinya lewat ibunya dalam bahasa Arab tidak dapat memenuhi kebutuhan spiritualnya. Hingga akhirnya, pada tanggal 14 Februari 1932, pukul setengah enam sore setelah melakukan salat daim, sampailah ia pada suatu pengalaman mistis dan menerima wahyu pertama. Pakde Narto menerima sabda ilahi untuk pertama kalinya yang berbunyi:

“Ketahuilah, yang dinamakan Ilmu Sejati ialah petunjuk yang nyata, yaitu petunjuk yang menunjukkan jalan yang benar, jalan yang sampai pada asal mula hidup.”

Menurut penuturan Kusumo selaku pemberi ceramah pepadangan mengenai profl Soenarto, setelah menerima Sabda tersebut, Pakde Narto seketika terkejut dan bertanya kepada asal suara “Siapa gerangan yang menyampaikan sabda tadi?” kemudian turun kembali sabda yang selanjutnya dalam kurun waktu yang sama yang berbunyi:

“Aku Suksma Sejati yang menghidupi alam semesta, bertakhta di semua sifat hidup.”

“Aku Utusan Tuhan yang Abadi, yang menjadi Pemimpin, Penuntun, Gurumu yang Sejati ialah Guru Dunia. Aku datang untuk melimpahkan anugerah Tuhan kepadamu berupa pepadang dan tuntunan. Terimalah dengan menengadah ke atas, menengadah yang berarti tunduk, sujud di hadapan-Ku.”

“Ketahuilah siswa-Ku, bahwa semua sifat hidup itu berasal dari Suksma Kawekas, Tuhan semesta alam, letak sesembahan yang sejati ialah Sumber Hidup, yang akan kembali kepada-Nya. Sejatinya hidup itu satu, yang abadi keadannya dan meliputi semua alam sesisinya.”

Pasca turunnya wahyu yang kedua, Pakde Narto masih tetap merasa belum pantas untuk mendapatkan sabda dari Sang Guru Sejati dalam keadaan yang masih kotor secara batiniah. Beliau mengalami kekhawatiran spiritual yang membuatnya merenung dan memohon kembali kepada Sang Guru Sejati untuk disucikan dari kotornya dunia dan diberikan kekuatan untuk menerima sabda selanjutnya, maka, tidak lama berselang, turunlah sabda yang berbunyi:

“Mengertilah engkau siswa-Ku! Bahwa yang membawa ukuran dan timbangan itu Aku, oleh karena itu: Janganlah kecil hatimu jika tidak ada yang percaya kepadamu, janganlah sakit hati jika ada yang menertawakan dan meremehkan dirimu, janganlah waswas dan cemas jika ada yang memftnah dirimu. Aku melindungi dan menuntun sampai dalam kesejahteraan, semua umat yang berjalan di jalan rahayu, yang bernaung di bawah lindungan pengadilan-ku. Aku tidak akan menegakan mereka yang mewakili karya-Ku.”

“Pepadang ialah sabda wejangan-Ku sebarluaskanlah dan berikanlah kepada siapa saja, laki-laki, perempuan, tua muda, dengan tidak membeda-bedakan jenis bangsa dan derajat yang memerlukan pepadang serta tuntunan-Ku. Akan tetapi ingat, jangan sekali-kali disertai paksaan dan pamrih apapun.”

“Kewajiban yang luhur dan suci itu, laksanakanlah dengan keikhlasan, kesabaran dan pengorbanan. Barangsiapa mau mewakili karya-Ku, yaitu menyebarluaskan sabda-Ku, ialah sabda Tuhan dengan syaratsyarat yang kuterangkan tadi, akan menerima anugerah Tuhan. Siswa-Ku! Nantikanlah sementara waktu, engkau Kuberi pembantu yang akan Kutunjuk untuk mencatat semua sabda-ku, yaitu: 1. Hardjoprakoso, 2. Soemodihardjo. Calon siswa tersebut juga kuutus untuk menyebarluaskan pepadang sabda Tuhan yang Kubawa. Sekalikali janganlah kecil dan was-was hatimu! Engkau bertiga akan menyangga karya yang agung, kelak banyak yang akan membantumu.

“Sinar ajaran-Ku akan memancar meliputi dunia. Sekian dahulu perintah-ku.”

Beberapa bulan setelah menerima sabda tersebut, tepatnya pada tanggal 27 Mei 1932, R.T. Hardjoprakoso bersama dengan R. Trihadono Soemodihardjo sebagai dua orang yang tersebut dalam sabda datang menemui R. Soenarto. Sejak saat itulah, mereka menerima wajangan dan ajaran Sang Guru Sejati yang kemudian dituliskan dalam pustaka Sasangka Jati sampai Januari 1933. Baik Hardjoprakoso maupun Soemodihardjo secara aktif mengadakan perkumpulan sebulan sekali pada malam bulan purnama untuk mendengarkan ceramah ajaran Beberapa bulan setelah menerima sabda tersebut, tepatnya pada tanggal 27 Mei 1932, R.T. Hardjoprakoso bersama dengan R. Trihadono Soemodihardjo sebagai dua orang yang tersebut dalam sabda datang menemui R. Soenarto. Sejak saat itulah, mereka menerima wajangan dan ajaran Sang Guru Sejati yang kemudian dituliskan dalam pustaka Sasangka Jati sampai Januari 1933. Baik Hardjoprakoso maupun Soemodihardjo secara aktif mengadakan perkumpulan sebulan sekali pada malam bulan purnama untuk mendengarkan ceramah ajaran

Namun, meski berstatus sebagai organisasi spiritual, Pangestu memiliki pola ajaran layaknya penghayat kepercayaan dan kebatinan pada umumnya. Ajaran Pangestu terpusat pada olah batin dan spiritualisme, yang dilakukan melalui refleksi ajaran Sang Guru Sejati melalui beberapa praktik. Berikut beberapa ajaran pokok yang menjadi inti dari Pangestu:

  1. Kewajiban Delapan Perkara (Hasta Sila) yang terdiri dari dua bagian, yaitu Tri Sila dan Panca Sila. Tri Sila dalam Pangestu adalah Sadar, Percaya dan Iman Tri Sila di sini menekankan pada proses relasi manusia dengan Yang Maha Esa melalui tiga tingkatan, yaitu dimulai dari proses ‘sadar’ akan kewajiban bakti kepada Tuhan. ‘Sadar’ tersebut dapat menuntun manusia ke dalam watak yang bijak, yang mampu membedakan hal yang benar dan yang salah, yang nyata dan tidak nyata. Berikutnya, tingkatan ‘percaya’ dan ‘iman’ merupakan simbol ikatan batin yang kuat yang mengalirkan tuntunan, perlindungan dan pertolongan kasih dari Tuhan bagi manusia. Tanpa keduanya, manusia ibarat memutuskan ikatan batin dengan Tuhan yang sejatinya merupakan asal dari cipta manusia. Sedangkan Panca Sila sendiri mewakili sifat-sifat baik yang harus tertanam dalam diri setiap manusia, yaitu Rela, Narima, Jujur, Sabar dan Budiluhur.
  2. Panca Dharma Bakti (Jalan Rahayu) sebagai tahapan pelatihan agar mampu melaksanakan Hasta Sila. Ringkasan pokok-pokok Jalan Rahayu adalah sebagai berikut:

a. Memahami dan menghayati intisari makna dan rumusan hukum perjanjian Tuhan Yang Maha Esa kepada hamba-Nya yang merupakan landasan kepercayaan dan kebulatan tekad yang diperjuangkan.

b. Berbakti kepada Tuhan dan Utusan-Nya yang diteguhkan melalui Panembah yaitu menyembah kepada Tuhan secara teratur sebagai kewajiban manusia.

c. Budi darma, yaitu mewujudkan belas kasih kepada sesama umat, dengan memberikan kebaikan, membantu kesulitan dan meringankan baik melalui bantun tenaga, materi maupun doa.

d. Mengendalikan nafsu-nafsu yang cenderung kepada kejahatan dan lain sebagainya, agar tidak mengganggu pelaksanaan kewajiban yang dijalankan.

e. Berbudi luhur, sebagai bekal untuk mencapai tujuan hidup yang hakiki

3. Panca Pantangan (Paliwara) merupakan larangan yang tidak boleh dilanggar. Pantangan Tuhan tersebut dapat dikelompokkan dalam lima larangan besar, yaitu:

a. Jangan menyembah selain Allah

b. Berhati-hatilah dengan nafsu syahwat

c. Jangan makan atau minum yang memudahkan rusaknya jasmani d. Taatilah undang-undang negara dan peraturannya

e. Jangan bertengkar

Melihat dari pokok ajaran seperti yang tersebut di atas, Pangestu sejatinya juga memiliki sistem hukum mengikat berisi perintah dan larangan, layaknya agama-agama. Meskipun dalam klaimnya, ajaran tersebut dimaksudkan hanya sebagai sarana olah spiritual, namun dalam prakteknya tidak jauh berbeda dengan aturan agama yang tidak hanya mengatur aspek rohani, namun juga aspek eksternal seperti relasi sosial dan kemasyarakatan. Seperti penuturan Clifford Geertz, (1983: 427), pola pikir orang Jawa cenderung menunjukkan ambiguitas dimana mereka pada umumnya menganggap bahwa meskipun pengalaman mistik merupakan perasaan yang berada di luar kehidupan duniawi dan memisahkan diri dari dunia empiris, namun pengalaman mistik sejatinya juga membawa kepada hal-hal yang bisa digunakan di dunia. Karena itulah, meski tujuan awal berdirinya Pangestu hanya terbatas pada pengayaan spiritual, namun Pangestu tidak akan pernah bisa melepaskan diri dari urusan-urusan duniawi.

Selain daripada ajaran yang tersebut di atas, ajarang Sang Guru Sejati mengenai penciptaan alam semesta dan kaitannya dengan konsep pemurnian batin manusia yang disebut sebagai Gumelaring Dumadi dan Tri Purusa juga menjadi ajaran penting lain dalam Pangestu. Menurut kitab Gumelaring Dumadi yang terangkum dalam Sasangka Jati, penciptaan alam semesta berasal dari empat unsur kehidupan, yaitu air, tanah, api, dan suasana (udara). Keempat unsur tersebutlah yang juga membentuk penciptaan manusia. Ajaran Gumelaring Dumadi ini sejatinya tidak bisa dipisahkan dari Tri Purusa (Konsep Ketuhanan), sebab ajaran tersebut juga menjelaskan unsur lain yang melengkapi penciptaan manusia. Dalam ajaran Pangestu, Dzat Tuhan memiliki tiga sifat dalam satu unsur, yaitu:

a. Suksma Kawekas (Tuhan Yang Sejati) atau dalam Bahasa Arabnya disebut Allah Ta’ala. Suksma Kawekas adalah Tuhan sekalian alam, Sembahan yang Sejati, Sumber Hidup.

b. Suksma Sejati (Pemimpin Sejati/Guru Sejati/Penuntun Sejati) yang merupakan Utusan Tuhan. Pangestu memahami bahwa dalam setiap diri utusan Tuhan seperti Muhammad, Isa Almasih, Musa, dan lain sebagainya memiliki satu jiwa bernama ‘suksma sejati.’ Sejatinya, yang diutus Tuhan ke bumi untuk membimbing umat manusia bukanlah raga Muhammad, Isa ataupun Musa, namun “jiwa/suksma sejati yang berasal dari Allah Ta’ala, Suksma Kawekas. Karenanya, meski raga utusan tersebut telah tiada, ‘suksma sejati’ tetap abadi. Berangkat dari kepercayaan tersebut, Pangestu meyakini jika ‘suksma sejati’ yang abadi tidak hilang, namun dapat termanifestasi dalam diri manusia-manusia spesial yang dipilih Tuhan menjadi perantara untuk menuntun manusia kepada kebajikan. Suksma Sejati adalah yang menghidupi, Utusan Tuhan yang abadi tidak berwujud dan menjadi Panutan, Penuntun dan Guru yang Sejati. Cukup berbeda dengan pemahaman rasul dalam agama monoteistik yang cenderung memiliki kepercayaan eksklusif, dimana kekuatan supranatural tersebut hanya dimiliki oleh manusia terpilih yang tunggal, Pangestu tidak memiliki eksklusiftas tersebut.

c. Roh Suci(Manusia sejati), adalah jiwa manusia yang sejati.Sejatinya,manusia dan seluruh makhluk memiliki percikan cahaya Tuhan yang disebut roh suci. Roh suci tersebut harus selalu dijaga kesuciannya untuk dapat kembali diterima di sisi Tuhan jika tiba saatnya. Karenanya, Pangestu mengajarkan warganya untuk selalu berolah rasa, memperbaiki tindak laku, membersihkan hati dan mempersiapkan diri sepenuhnya untuk kembali kepada Suksma Kawekas. Sebab sejatinya, manusia dengan roh suci merupakan sinar Tuhan dan akan kembali kepadanya. Konsep ini serupa dengan banyak ajaran kepercayaan/kebatinan mengenai manunggaling kawulo gusti.

Untuk menjelaskan relasi antara ketiga sifat tersebut, Pangestu mengibaratkannya dengan samudra. Samudra yang tenang dan tidak bergelombang diibaratkan sebagai Suksma Kawekas. Samudra yang bergelombang diibaratkan sebagai Suksma Sejati, sedangkan buih dari samudra yang terpercik adalah Roh Suci. Wujud Roh Suci kecil dan terbatas bila dibandingkan dengan Suksma Sejati dan Suksma Kawekas, namun sama-sama suci. Terbatasnya Roh Suci menimbulkan adanya individualitas pribadi yang terbatas pula, dan perasaan terpisah dari sumbernya sebab roh suci tersebut telah diberi busana berupa empat unsur yang sudah disebutkan sebelumnya.

Untuk melengkapi keutamaan manusia agar dapat berjalan di jalan sejati dan kembali kepada Suksma Kawekas, Tuhan menurunkan Suksma Sejati kepada manusia untuk menjadi penuntun. Namun, penciptaan manusia sendiri sudah istimewa sebab Tuhan tidak hanya memberikan Roh Suci-nya, namun Tri Purusa secara penuh telah ada dalam diri manusia. Ketika manusia tercpita, ia dilengkapi dengan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa (Suksma Kawekas), diberi Penuntun (Suksma Sejati) dan memiliki percikan Tuhan dalam dirinya (Roh Suci). Karena itulah, jika manusia dan semua makhluk di dunia ini diciptakan dari Roh Suci, Suksma Kawekas dan Suksma Sejati menjadi kunci yang menandai keistimewaan manusia. Konsep penciptaan yang sangat antroposentrik ini serupa dengan keistimewaan penciptaan manusia dalam Islam, dimana manusia merupakan ciptaan Tuhan yang paling sempurna karena diberkati dengan nafsu akal, salah satu unsur yang membedakannya dengan hewan dan malaikat. Manusia memiliki otoritas untuk memilih jalan spiritualnya, yang sedikit banyak diadopsi oleh Soenarto ke dalam Pangestu sebagai seorang muslim.

Dalam ajaran Pangestu, Tuhan tetap disebut yang Maha Tunggal, dan manusia dilarang menyekutukan Tuhan dengan menyembah selain-Nya. Karena itulah, konsep syahadat atau kredo dalam Islam dan Kristen yang menyatakan kesaksian dan panembahan Kepada Tuhan Yang Esa adalah benar adanya. Pangestu merelasikan Tri Purusa (Suksma Kawekas-Suksma Sejati-Roh Suci) sebagai Allah Ta’ala-Nur (Roh) Rasul-Muhammad dan Allah Bapa-Allah PutraRoh Kudus.

Meski konsep Ketuhanan dalam Pangestu sangat monoteis, namun tidak menghalangi bagi pemeluk Hindu dan Budha untuk dapat menjadi anggota Pangestu. Salah seorang anggota Pangestu beragama Hindu, Supriyadi (49) menyatakan bahwasanya konsep penyembahan Dewa-Dewa dalam agama Hindu tidak berarti menyekutukan Tuhan. Dalam agamanya, Tuhan tetap Maha Esa. Keberadaan Dewa dan Dewi bukanlah menjadi objek utama penyembahan, melainkan hanya sebagai perantara bagi manusia untuk berdoa kepada Tuhan.14 Terkait pula dengan konsep Tri Purusa yang cenderung mirip dengan Trinitas, anggota muslim Pangestu pada akhirnya memilih untuk menegosiasikan ajaran agamanya dengan ajaran Pangestu. Mereka menganggap bahwa Tri Purusa pada dasarnya tidak menyalahi konsep tauhid dalam Islam, sebab dzat disembah merupakan satu kesatuan dzat Allah Ta’ala, dan bukan merupakan tiga unsur yang terpisah.

B. Organisasi Pangesu

Sejak awal didirikannya pada tanggal 20 Mei 1949 hingga saat ini, Paguyuban Ngesti Tunggal (Pangestu) merupakan organisasi sebagaimana organisasi-organisasi lain pada umumnya. Bersifat terbuka untuk umum serta dikelola dengan cara-cara sebagaimana lazimnya pengelolaan organisai biasa. Pangestu memiliki Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta peraturan organisasi. Pangestu juga memiliki kepengurusan organisasi dari tingkat pusat, cabang dan ranting di seluruh Indonesia. Kegiatan-kegiatan organisasi juga diselenggarakan secara terbuka. Untuk terus mengontrol Sejak awal didirikannya pada tanggal 20 Mei 1949 hingga saat ini, Paguyuban Ngesti Tunggal (Pangestu) merupakan organisasi sebagaimana organisasi-organisasi lain pada umumnya. Bersifat terbuka untuk umum serta dikelola dengan cara-cara sebagaimana lazimnya pengelolaan organisai biasa. Pangestu memiliki Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta peraturan organisasi. Pangestu juga memiliki kepengurusan organisasi dari tingkat pusat, cabang dan ranting di seluruh Indonesia. Kegiatan-kegiatan organisasi juga diselenggarakan secara terbuka. Untuk terus mengontrol kegiatan keorganisasian, setiap lima tahun sekali, Kongres Nasional Pangestu diadakan. Tercatat sejak tahun 1961-2015, sudah sebanyak tujuh kali kongres diselenggarakan.

Pangestu pada dasarnya merupakan kancah pendidikan dan pengolahan jiwa agar para anggotanya memiliki jiwa yang sehat dan kuat serta berbudi luhur. Di lingkungan Pangestu, setiap anggota melaksanakan proses pembelajaran dan pelatihan untuk memiliki watak-watak utama serta senantiasa berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan melaksanakan petunjuk dan perintah serta menjauhi larangan-Nya, untuk mencapai tujuan hidup yang hakiki yaitu ketentraman dan kedamaian hati dalam kehidupan sehari-hari serta mencapai kebahagiaan abadi di hadiran Tuhan. Seperti yang tercantum dalam AD/ART Pangestu tahun 1949, Pangestu menegaskan posisinya bukan sebagai agama dan tidak mengarah kepada pembentukan agama baru serta bukan bagian dari aliran kepercayaan dan kebatinan. Pangestu berasaskan Pancasila, dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia serta bersifat: kejiwaan, mandiri dan tidak membeda-bedakan golongan, ras, derajat, agama dan kepercayaan. Pangestu juga tidak berpolitik praktis dan tergabung dalam kelompok politik manapun. Terkait dengan fakta bahwa Pangestu tidak ingin disebut sebagai agama, aliran kepercayaan atau kebatinan, Dr. R. Marsaid Soesilo Sastrodihardjo, Ketua Cabang Pangestu Surabaya menegaskan hal tersebut dalam sebuah tulisan di Dwidja Wara, Tahun IV, No. 7 yang tertulis sebagai berikut, “…bahwa dari pelajaran Paguyuban Ngesti Tunggal yang tersimpan dalam buku Sasangka Djati terdapat pokokpokok pemikiran yang demikian:

a. Bukan rahasia, bukan misteri, bukan ilmu klenik, bahkan tersedia bagi setiap umat manusia yang membutuhkannya.

b. Bukan agama, bukan religion, hal ini dijelaskan pada halaman 77 dan berikutnya pada buku Sasangka Djati.

c. Bukan ilmu gaib, bukan okultisme, yang memberikan harapan kepada para marsudi akan mendapatkan kekuatan atau kagunan yang ajaib-ajaib.

d. Bukan spiritisme, yang mempergunakan kekuatan makhluk yang halus.

e. Bukan ilmu sihir, bukan magic, baik putih maupun hitam.”

Meski ajaran-ajaran Pangestu banyak menyerupai, dan bahkan dapat dilihat sebagai bagian dari mistisme dan kebatinan Jawa, Pangestu secara tegas menolak disamakan dengan kelompok tersebut. Melihat bagaimana Pangestu menyebut kelompok kebatinan/kepercayaan sebagai praktik mistis, klenik, okultis, spiritis dll menunjukkan bahwa Pangestu masih terperangkap dalam paradigma agama dunia dalam melihat aliran kepercayaan. Selama keterlibatan penulis dalam aktivitas Pangestu, banyak didapatkan ujaran-ujaran yang menyebut aliran kebatinan adalah praktik musyrik karena percaya pada entitas lain selain Tuhan.

Selain itu, menurut Pangestu, kebanyakan ajaran kebatinan tidak memilik dasar ajaran, dan proses batin tersebut didapatkan melalui pencarian pribadi. Sedangkan dalam Pangestu, ada ajaran pokok yaitu ajaran Sang Guru Sejati sebagai penuntun dalam proses olah batin. Di sisi lain, meski Pangestu juga menyatakan diri bukan agama, Pangestu masih mengadopsi cara pandang agama yang menganggap bahwa kelompok aliran kepercayaan berada di bawah standar agama dan spiritualisme monoteis.

Maka dari itu, kelindan antara identitas kepercayaan, agama dan spiritualisme Pangestu semakin sulit untuk dipisahkan.Selain itu, sebagaimana layaknya organisasi, Pangestu memiliki visi dan misi. Visi Pangestu adalah “terwujudnya Penaburan dan Pemeliharaan Pepadang Ajaran Sang Guru Sejati untuk membangun kepercayaan yang benar bagi semua umat yang percaya dan membutuhkan.” Sedangkan misinya terdiri dari lima hal:

  1. Menghimpun anggota Pangestu, siswa Sang Guru Sejati agar menjadi akrab
  2. Berupaya hidup bersatu, damai dan rukun bersama semua golongan, tidak membedakan jenis, bangsa, derajat, agama dan keyakinannya.
  3. Meningkatkan fungsi Pangestu sebagai kancah pendidikan dan pengolahan jiwa agar jiwa menjadi sehat, kuat dan mempunyai watak budi luhur.
  4. Menjaga kelangsungan dan keberadaan organisasi dengan meningkatkan kualitas pengelolaan organisasi.
  5. Memelihara Pepadang Ajaran Sang Guru Sejati dan menyebarluaskannya kepada umat yang percaya dan membutuhkan.

Terkait dengan misi Pangestu yang ingin menghimpun anggota Pangestu secara formal, serta meningkatkan fungsi Pangestu sebagai kancah pendidikan dan pengolahan jiwa, wujud organisasi menjadi penting. Sejak awal, sabda Sang Guru Sejati juga sudah menganjurkan agar siswanya dikemudian hari membentuk perkumpulan. Setelah menimbang kebutuhan, kecocokan dan ketepatan fungsi terkait dengan sabda, visi dan misi Pangestu, maka organisasi Pangestu secara resmi dilembagakan.

Untuk dapat melaksanakan visi dan misi tersebut, maka Pangestu juga mengadakan kegiatan pokok yang diselenggarakan oleh cabang serta ranting Pangestu di setiap daerah. Kegiatan tersebut adalah:

  1. Penaburan pepadang

Penaburan pepadang merupakan proses untuk melakukan ceramah penerangan (ceramah mengenai ajaran Sang Guru Sejati) kepada masyarakat atau individu di luar anggota Pangestu yang tertarik untuk mempelajari ajaran Sang Guru sejati. Ceramah dilakukan selama dua jam delapan kali pertemuan. Setelah mengikuti rangkaian ceramah Penerangan, para peserta berhak menentukan sendiri apakah akan terus memperdalam, menghayati dan melaksanakan ajaran Sang Guru Sejati atau tidak. Apabila peserta berkeinginan untuk memperdalam, maka yang bersangkutan akan dilantik menjadi Anggota Pangestu dalam acara Pelantikan Anggota Baru oleh Cabang Pangestu yang terkait.

2. Pemeliharaan pepadang

Berkebalikan dengan penaburan pepadang, kegiatan pemerliharaan pepadang ditujukan kepada para anggota Pangestu untuk meningkatkan penghayatan, kesadaran dan kemampuan dalam melaksanakan ajaran Sang Guru Sejati dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan Pemeliharaan Pepadang diselenggarakan oleh Cabang Pangestu dalam bentuk pertemuan periodik, yaitu:

a. Olah Rasa, pertemuan organisasi dimana dipaparkan dan diuraikan substansi ajaran Sang Guru Sejati oleh pengisi Olah Rasa serta penyampaian kesaksian dan pengalaman dari anggota dalam menghayati dan melaksanakan ajaran Sang Guru Sejati. Olah Rasa diadakan setiap minggu di masing-masing ranting, dan sebagai pembuka, olah rasa tingkat cabang akan diadakan pada minggu pertama setiap bulan. Terkhusus untuk cabang DIY, Olah Rasa pusat diadakan di gedung Dana Warih sebagai gedung pertemuan utama Pangestu yang terletak di Timoho. Menurut golongan usia, Olah Rasa juga dibagi menjadi Olah Rasa Wanita dan Pemuda dan Olah Rasa Adi Yuswa untuk lansia. Namun pada dasarnya, anggota Pangestu bebas untuk mengikuti olah rasa manapun. Hanya saja, materi dan cara penyampaian menjadi sedikit berbeda dan disesuaikan dengan kategori umur.

b. Ajar Pustaka, pertemuan kelompok untuk mendalami bersama ajaran
Sang Guru Sejati sebagaimana termaktub dalam buku Sasangka Jati dan buku-buku wajib lainnya. Jika Olah Rasa membahas ajaran yang tertulis dalam buku wajib secara luas, Ajar Pustaka membahas secara spesifk topik tertentu dari salah satu buku wajib.

c. Anjangsana, yaitu pertemuan antara para anggota Pangestu dari lingkungan Cabang/Koordinator Daerah yang berbeda dalam rangka meningkatkan kerukunan.

3. Pemeliharaan kancah pepadang

Pangestu sebagai organisasi diistilahkan sebagai kancah pepadang. Kegiatan Pemeliharaan Kancah Pepadang adalah kegiatan dalam rangka pengurusan organisasi Pangestu, baik di tingkat Pusat, Cabang maupun tingkat Ranting. Kegiatan Pemeliharaan Kancah Pepadang antara lain:

a. Kongres Pangestu yang diselenggarakan setiap 5 tahun sekali

b. Musyawarah anggota cabang

c. Rapat pengurus Pangestu d. Sarasehan

Untuk dapat menjadi anggota Pangestu, syarat utama yang harus dilakukan adalah mengikuti Ceramah Penerangan tentang Ajaran Guru Sejati dan Organisasi Pangestu sebanyak dua belas kali. Sedangkan bagi peneliti, disyaratkan untuk mengikuti Ceramah Penerangan sebanyak tujuh kali agar mendapatkan gambaran awal tentang Pangestu hingga tidak mengakibatkan kesalahpahaman dalam penulisan penelitian. Jika kemudian peneliti berkenan menjadi anggota Pangestu, ia dianjurkan untuk melanjutkan ceramah hingga mencapai dua belas kali. Sebagai organisasi, anggota baru wajib mendaftarkan diri dengan form keanggotaan, kemudian melakukan pelantikan dalam Upacara Pelantikan Anggota Baru yang diselenggarakan oleh Pengurus Cabang Pangestu setempat.

Sebagai organisasi terbuka dan bukan bagian dari kepercayaan yang bersifat missionaris, Pangestu hanya menerima anggota yang sudah dewasa, paham akan pilihannya dan bukan menjadi anggota atas dasar paksaan. Karena itulah, banyak anggota Pangestu yang memiliki kerabat dekat, anak, ataupun pasangan yang tidak ikut tergabung dalam organisasi Pangestu.

C. SPIRITUALISME DALAM PANGESTU

Sesuai dengan identitasnya sebagai organisasi spiritual, spiritualisme menjadi inti dari segala ajaran serta visi misi organisasi Pangestu. Sabdasabda Sang Guru Sejati (Soenarto) mencakup perkara olah rasa dan jiwa serta kaitannya dengan proses pendekatan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui pengenalan diri, pembersihan jiwa dari sifat buruk dan hina dipahami oleh Pangestu sebagai bentuk dari olah spiritualitas.

Selain keseluruhan ajaran Sang Guru Sejati, Pangestu juga merumuskan secara khusus beberapa pokok ajarannya yang dinilai merupakan inti dari pemahaman mengenai spiritualisme dalam Pangestu. Pokok ajaran tersebut bernama Candra Jiwa Soenarto. Pada hakekatnya, Candra Jiwa Soenarto adalah ilmu pengetahuan tentang jati diri manusia di pusat hidup imateri. Candra Jiwa tersebut memperkenalkan kesadaran kolektif yang terbatas yang disebut Tripurusa. Sadar kolektif pertama adalah sadar statis, yaitu Suksma Kawekas (dalam konsep agama dapat disebut sebagai Tuhan) sebagai asal mula, sumber, dan tujuan hidup. Kesadaran kedua yaitu kesadaran dinamis diwakili oleh Suksma Sejati (Rasul); yang menghidupi. Kesadaran terakhir merupakan kesadaran terbatas yaitu Roh Suci (manifestasi Suksma Kawekas dalam diri manusia); yang dihidupi, adalah manusia yang imateri (ego-rohani). Pusat imateri tersebut terselubungi materi-kasar (jasmani-kasar) sebagai pelindung. Fisik manusia ini dilengkapi dengan angan-angan, nafsu-nafsu, dan perasaan serta pancaindra untuk berkomunikasi.

Kesadaran manusia yang bersifat jasmani adalah kesadaran potensial, yang mana dapat diubah menjadi kesadaran imateri (roh suci) melalui jalan introspeksi dan religi. Ketika kesadaran materi manusia terus menerus diolah, prosesnya akan berujung pada leburnya sadar materi dalam sadar imateri menuju roh suci. Peristiwa terakhir inilah tujuan akhir dari evolusi kesadaran manusia, dikenal dengan peristiwa Panunggal/Pamudaran. Seluruh peristiwa tersebut terjadi atas kehendak Suksma Kawekas (Tuhan) dan dilaksanakan oleh utusan-Nya yang abadi yaitu Suksma Sejati (Rasul).1 Penjelasan mengenai Candra Jiwa Soenarto ini ditulis oleh salah seorang anggota Pangestu, yaitu Somantri Hardjoprakoso dalam bentuk disertasi untuk meraih gelar Doktor Psikiatri Rijkuniversiteit, Leiden pada tahun 1956. Judul disertasinya adalah “Indonesisch Mensbeeld als Basis ener Psycho-therapie” Hingga sampai saat ini, disertasi tersebut terus dikaji ulang oleh Budhi Setianto selaku pengurus Pusat Pangestu dan menjadi bahan pokok ajaran dalam olah rasa. Setianto sendiri dalam wawancaranya tertanggal 30 Januari 2019 menyebutkan spiritualisme sebagai Ketuhanan

ANTARA AGAMA DAN KEPERCAYAAN:

ANTARA AGAMA DAN KEPERCAYAAN:

Selain memahami ajaran Sang Guru Sejati sebagai bentuk Ketuhanan, Pangestu kemudian memberikan perbedaan antara ketuhanan spiritualis dan agama. Tidak seperti agama yang terikat dengan ritus formal dan kitab suci. Kusumo, salah seorang Pengurus Pangestu Cabang DIY menjelaskan pengertiannya mengenai spiritualisme dengan mengutip beberapa penulis seperti Ron Caciocoppe dan Nilam Widyarini. Menurutnya, agama formal memiliki orientasi eksternal, seperti pengakuan sosial, kebutuhan akan tempat ibadah, pendidikan dsb, sedangkan spiritualitas mencakup seseorang yang memandang kedalam batinnya, dan oleh karenanya dapat dijangkau oleh semua orang, baik yang religius maupun tidak.

D. AJARAN SANG GURU SEJATI (PANGESTU) SEBAGAI ‘PENDAMPING’ AGAMA

Seperti yang telah disebut dalam pembahasan sebelumnya, Pangestu merupakan organisasi spiritual dengan anggota yang berasal dari berbagai macam agama yang diakui secara formal di Indonesia, baik Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha dan Konghuchu. Hal ini memungkinkan sebab sejak awalnya, Pangestu didirikan bukan untuk menjadi agama baru atau mengambil alih kepercayaan beragama yang telah ada, mengingat bahwa Soenarto sebagai pendiri juga merupakan seorang muslim. Pangestu hadir sebagai “fakultas psikologi,” tempat dan sarana bagi olah rasa untuk membentuk pribadi yang lebih baik.

Seperti yang tertulis dalam kitab Sasangka Jati bagian Tunggal Sabda (1932), Sonarto menjelaskan posisi ajaran Sang Guru Sejati (Pangestu) di hadapan agama sebagai berikut :

“Ketahuilah hai siswa-siswa-Ku,

Bahwa kedatangan-Ku ini bukan karena ehndak merusak dan mengganti peraturan Tuhan yang telah ada, yaitu yang lazimnya disebut sebagai agama baru. Aku hanya hendak menunjukkan jalan yang benar dan jalan simpangan, lagipula memperingatkan kepada mereka yang lupa akan kewajiban suci, juga memberi petunjuk tentang pemeliharaan hati dan cipta kepada kamu sekalian yang percaya, demikian pula kepada mereka yang berhasrat mencari petunjuk dan sinar terang daripada-ku, agar supaya dapat bertemu dengan Aku di dalam hati sanubarinya.

………..

Dengarlah hai siswa-Ku,

Adapun pelajaran-Ku ini dapat dimisalkan sebagai obor yang dipakai untuk menerangi tempat yang masih diliputi oleh kegelapan dan membutuhkan sinar cahaya terang daripada-Ku.

Sebab itu yang merasa telah mempunyai obor dari petunjuk agama Islam atau agama Kristen, tidak perlu memakai obor-Ku ini. Bagi mereka yang tidak menyukai dan tidak percaya kepada petunjuk-ku ini Ku-peringatkan: segeralah mencari obor atau petunjuk yang tersimpan di dalam kitab-kitab suci Al Qur’an atau Injil, yaitu petunjuk sejahtera yang berasal dari tuntunan agama Islam atau agama Kristen, pilih mana yang memuaskan dan membuat hati menajdi tenang karena keduaduanya merupakan agama yang benar-benar dari Tuhan, sebab itu bila dijalankan dengan percaya dan ditaati dengan sungguh-sungguh, lagipula disertai dengan kecerdasan hati (kesadaran), tentu akan samapi pada Kenyataan yang Sejati.”

Menurut penjelasan Kusumo dalam ceramah penerangan pada 21 April 2019, kehadiran Pangestu tidak dimaksudkan untuk mengganti ajaran agama yang sudah ada, namun dapat menjadi obor bagi beberapa siswa yang kesulitan mendapatkan pencerahan batin dari ajaran agama yang sudah dianut. Seperti halnya yang dialami oleh Soenarto, beberapa orang mengalami kesulitan dalam beragama disebabkan beberapa hal, seperti perbedaan bahasa, kultur di mana agama tersebut muncul dan bagaimana penganut dapat bernegosiasi dengan budaya tersebut, serta beberapa hal lain. Pangestu yang lahir di tanah Jawa, melalui perantara orang Jawa dimaksudkan agar dapat menjadi pintu masuk seseorang dalam perjalanan rohaninya, sebelum lebih lanjut memahami agamanya.

Lebih lanjut, beliau juga memberikan gambaran bahwa posisi Pangestu dengan agama adalah layaknya buku pendamping pelajaran atas buku pokok. Atau seperti Al-Qur’an (dalam konteks ini adalah agama) dan kitab tafsir (Pangestu). Karena hadirnya sebagai pendamping, maka sangat memungkinkan bagi pemeluk agama taat sekalipun untuk menjadi anggota Pangestu, bukan hanya yang bagi kesulitan dalam memahami agama.

Berdasarkan observasi, ada cukup banyak anggota Pangestu yang merupakan penggiat dan kelompok taat di agama masing-masing. Sebagai contoh adalah Kusumo, selaku pemberi ceramah penerangan yang begitu mendalami ajaran Sang Guru Sejati selalu melakukan solat jamaah lima waktu di masjid dan sedang mempelajari tafsir Al-qur’an. Kemudian Ramelan, Ketua Korda Pangestu Cabang DIY merupakan imam masjid di komplek perumahannya, dan memiliki putri seorang aktivis dakwah kampus. Dari penganut Katholik, Darmastuti yang merupakan Ketua Pangestu Cabang DIY mengaku secara aktif terlibat dalam kegiatan gereja dan menjadi lebih religius setelah menjadi anggota Pangestu.

Namun di sisi lain, ada juga beberapa anggota Pangestu yang menjadikan ajaran Sang Guru Sejati sebagai “obor” utama dalam kehidupan spiritualnya. Kelompok tersebut pada dasarnya memiliki keimanan kepada Tuhan YME namun tidak memutuskan untuk memeluk salah satu agama. Salah seorang narasumber dari golongan tersebut menjelaskan bahwasanya pendalaman spiritual dapat dengan mudah ia dapatkan di Pangestu. Baginya yang seorang Jawa, Pangestu yang ajarannya sarat dengan kebijakan-kebijakan Jawa dan dipadukan dengan konsep monoteisme membuatnya semakin yakin bahwa Tuhan adalah Esa, Tuhan adalah dekat dan manusia sesungguhnya dapat menjadi dekat dengan Tuhan jika mau membersihkan jiwanya. Seperti Pakde Narto, Tuntung sudah mengembara mencari pemahaman spiritualisme lewat beberapa agama yang dipelajarinya, yaitu Islam, Kristen dan Hindu. Namun selama pengembaraan tersebut, belum ada yang secara legowo (ikhlas) dapat diterima oleh hatinya. Pada akhirnya ketika mengenal Pangestu lewat salah seorang rekan kerja, Tuntung merasa telah menemukan jalan spiritualitas yang selama ini ia cari.

Klaim sebagai pendamping agama seperti yang tersebut di atas menunjukkan bahwasanya Pangestu berusaha mendapatkan posisi tersendiri di antara agama dan kepercayaan, tepatnya di dalam third space sebagai “obor” pendamping jalan menuju kedekatan dengan Tuhan, atau juga suplemen batin bagi orangorang yang masih mencari tambahan spiritual di luar agamanya. Dalam upaya mempertahankan diri di dalam third space, Pangestu melakukan mimikri sebagai bagian dari ekspresi ingenious dengan mengadopsi identitas agama dan kepercayaan, yang kemudian diolah sedemikian rupa hingga menjadi identitas independen yaitu spiritualitas Pangestu. Jika ditarik ke dalam konteks kewarganegaraan, Pangestu sebagai kelompok warga dengan identitas organisasi spiritual juga tengah mengusahakan eksistensinya di antara dua kelompok besar yang diakui oleh pemerintah, yaitu agama dan kepercayaan. Berbagai strategi ingenious lain Pangestu dalam menghadapi governmentality pemerintah Indonesia lewat politik agama kemudian akan menjadi pokok pembahasan di dua bab selanjutnya, yaitu di bagian ketiga dari monograf ini.

© 2023 Program Peduli. All rights reserved.